Makin Darurat Narkoba, Ternyata Masyarakat Indonesia Lebih Doyan Ganja Sementara Orang NTB Suka Nyabu


Mataram, GL_ Tingkat penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di negeri ini sudah semakin parah, tidak terkecuali di daerah NTB. Menurut survey serta hasil pengungkapan kasus dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) sejak tahun 2021 hingga bulan Agustus 2022, tingkat penyalahgunaan narkoba mengalami peningkatan sebanyak 0,15 persen menjadi 1,95 persen atau 3,66 juta jiwa. Sebelumnya di tahun 2019 prevalensi pengguna narkoba di Indonesia sebesar 1,80 persen atau 3,41 juta jiwa. Prevalensi adalah jumlah orang memakai narkoba dalam kurun waktu tertentu dan dikaitkan dengan besar populasi dari kasus itu berasal.

Kendati secara umum jenis barang haram tersebut di masing-masing daerah berbeda-beda, namun secara umum rakyat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi jenis ganja, kemudian jenis shabu-shabu di urutan kedua, diikuti pil ekstasi dan jenis lainnya. Dari hasil pengungkapan BNN di seluruh wilayah Indonesia, ganja menempati urutan pertama dengan jumlah pengungkapan sebanyak 150,6 ton, kemudian diikuti Methamphetamine atau shabu-shabu sebanyak 4,7 ton, ekstasi sebanyak 356.237 butir, dan lahan ganja sebanyak 86,58 hektare.

Hal itu diungkapkan kepala BNN RI, Komjenpol Petrus Reinhard Golose, dalam sambutannya di kegiatan Apel Besar NTB Bersinar (Bersih dari Narkoba) di lapangan Gajah Mada Mapolda NTB, Kamis (15/9/2022).

Sementara untuk daerah NTB, tingkat penyalahgunaan narkoba juga mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil pengungkapan BNNP NTB bersama Polda NTB sejak tahun 2021 sampai Agustus 2022 berhasil ditemukan barang bukti jenis shabu-shabu sebanyak 15,3 kg, ganja sebanyak 15 kg, dan pil ekstasi sebanyak 1.187 butir.  Selain itu, Golose tidak menampik salah satu indikator tingginya angka peredaran narkoba di NTB nampak dari banyaknya narapidana kasus narkoba di Penjara yang ada di daerah berpenghuni sekitar 5 juta jiwa itu yang mencapai 70 persen dari seluruh narapidana yang ditahan.

“Ini kita lihat bahwa banyak Methamphetamine (shabu-shabu) yang masuk ke wilayah Nusa Tenggara Barat,” ucap Golose.

Dijelaskan Jenderal polisi bintang tiga ini, tingginya angka barang haram jenis shabu-shabu tersebut masuk ke wilayah NTB berpotensi bisa merusak generasi sebanyak 20 ribu orang. “Kalau dipake paket hemat istilahnya, itu sampai dengan tiga orang memakai satu gram berarti kita bisa lihat bisa sampai dengan 60 ribu orang (generasi yang jadi korban),” tambahnya. (GL/AH).


Belum ada Komentar untuk "Makin Darurat Narkoba, Ternyata Masyarakat Indonesia Lebih Doyan Ganja Sementara Orang NTB Suka Nyabu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel