NTB Penyumbang Pernikahan Dini Tertinggi Kedua di Indonesia, Banyak Orang Tua Gagal Faham Dampak Buruknya


Lombok Tengah, GL_ Provinsi NTB merupakan daerah penyumbang pernikahan anak di bawah umur/pernikahan dini terbanyak kedua di Indonesia. Beragam faktor penyebab yang tidak banyak disadari oleh kalangan orang tua terutama kaum ibu. Padahal, dampak buruk dari pernikahan dini disinyalir cukup banyak jika di cermati lebih dalam.

Hal tersebut disampaikan Deputi bidang pemenuhan hak anak atas pengasuhan dan lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia (KPPA RI), Rohika Korniadi Sari, SH. M.Si., dalam Sosialisasi KPPPA RI (Pemenuhan Hak Anak Atas Pengasuhan dan Lingkungan) bersama Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi Partai Demokrat, Dapil NTB-2 pulau Lombok, Dr. Ir. H. Nanang Samudra, KA, M.Sc., di balai desa Gemel, kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah-NTB, Jum’at (12/8).

Menurut Rohika, dampak pernikahan dini atau perkawinan di bawah umur ancamannya tidak bisa dilihat dalam satu atau dua tahun usia pernikahan. Namun biasanya bisa berdampak dalam kurun waktu 5-10 tahun. Terutama ancaman bagi anak perempuan yang akan menanggung resiko lebih banyak.

“Anak perempuan kita pasti akan terancam putus sekolah lebih awal. Karena kalau mereka sudah menikah, mereka akan hamil, tidak bisa meneruskan sekolahnya,” ungkap Rohika.

Ancaman lainnya tambahnya, ancaman kematian ibu melahirkan. Rahim anak perempuan yang masih di bawah umur masih terlalu lemah menurut ilmu kesehatan. Kanker serviks ancaman bagi anak-anak yang hamil karena menikah pada usia dini, mengingat organ reproduksinya belum sehat. Belum lagi ancaman bagi anak yang dilahirkan bisa berpotensi tidak sehat bahkan beresiko Kematian (stunting).

Selain itu ancaman perceraian pada pernikahan anak usia dini turut menjadi momok menakutkan. Setelah bercerai, akhirnya anak akan menjadi pekerja yang masih di bawah umur yang akan merugikan anak itu sendiri. “Seharusnya usia tersebut anak bisa mengenyam pendidikan dengan belajar di sekolah”, tegasnya.

Rohika berpesan, agar para orang tua bisa memberikan hak pendidikan dan kesehatan bagi anak. Selain itu juga hak jaminan sosial anak dengan tidak menikahkan mereka jika masih di bawah umur.

“Kami kementerian KKP tidak bisa kerja sendiri. Mari kita saling kerjasama untuk menyelamatkan anak-anak kita. Kita tidak diijinkan mewariskan generasi lemah”, harap Rohika.

Di kesempatan yang sama, Senator Senayan dari Komisi VIII fraksi Partai Demokrat, Nanang Samudra, menyebutkan, faktor penyumbang tingginya angka pernikahan anak di bawah umur di provinsi NTB, khususnya di pulau Lombok, di antaranya faktor pendidikan dan lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah tangga. Selain itu penggunaan handphone (HP) dinilai turut menyumbang tingginya angka pernikahan dini.

“surga dan neraka ada di sini (HP). Kalau mau liat film porno bisa dilihat di sini. Mau ngaji ada surat-suratnya di sini. Kita harus bisa mengajarkan kepada anak supaya bisa (menggunakan HP) dengan baik,” pungkas Nanang. (GL/red)


Belum ada Komentar untuk "NTB Penyumbang Pernikahan Dini Tertinggi Kedua di Indonesia, Banyak Orang Tua Gagal Faham Dampak Buruknya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel