Kepengurusan Krama Pura di Lombok Berpolemik, Tokoh Muslim Lingsar: Saudaraku Umat Hindu Bersatulah



Lombok Barat, GL_ Umat Islam suku Sasak dan umat Hindu Bali yang ada di pulau Lombok telah hidup berdampingan dengan rukun dan penuh kedamaian sejak ratusan tahun silam. Keharmonisan itu sudah sangat melekat kuat bahkan hingga menjalin hubungan kerabat kekeluargaan satu sama lain. Perbedaan keyakinan tidak menghambat mereka untuk hidup berdampingan dengan aman dan harmonis. Tidak heran ketika salah satu etnis itu mengalami masalah dalam hubungan sosial kemasyarakatan maka salah satu pihak akan ikut merasakan penderitaan akibat masalah tersebut.

Saking dekatnya hubungan etnis Hindu dan Muslim di Lombok, bahkan umat Hindu tidak lagi disebut lagi “orang Bali“, melainkan orang “Hindu Sasak” Lombok. Kedua Etnis yang berbeda itu selama ini selalu menjalin silaturrahmi bahkan sampai merajut hubungan kekeluargaan. Hal ini membuktikan persaudaraan Sasak Muslim dan Hindu Bali yang tinggal di Lombok sangat kuat.

Kini keharmonisan itu mengalami gangguan dengan polemik internal di kalangan umat Hindu Lombok. Pasalnya, kepengurusan Pura-Pura bersejarah umat Hindu Lombok ingin diambil alih oleh pihak Anak Agung dengan alasan penataan di bawah Kepengurusan Krama Puri. Namun demikian, keinginan pihak Anak Agung yang mengaku ahli waris Raja Karang Asem Bali itu ditentang oleh sejumlah pengurus Banjar Krama Pura Lombok. Bahkan polemik tersebut kini sudah masuk ke ranah hukum. Pihak Bimas Hindu Kementerian Agama (Kemenag) provinsi NTB bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTB telah berupaya melakukan mediasi untuk mencari solusi, namun belum menemukan titik terang.

Persoalan internal umat Hindu ini menimbulkan keprihatinan tersendiri di kalangan umat Islam Lombok. Pasalnya, nilai-nilai persatuan dan kesatuan serta kerukunan yang selama ini telah terbangun kuat dikhawatirkan terancam retak. Umat Islam di daerah berjuluk pulau seribu Masjid ini berharap agar umat Hindu bersatu dan menyelesaikan polemik ini secara kekeluargaan sebaik mungkin.

“Dari hati terdalam, saya sangat prihatin dengan persoalan saudara kami umat Hindu di sini (Lombok). Saya berharap saudara-saudaraku umat Hindu tetap menjaga persatuan dan bisa menyelesaikan persoalan internal secara baik dan kekeluargaan,” ungkap Sahirman, HK., Tokoh Muslim Desa Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, kepada gemalombok.com, di kediamannya, Selasa (1/2/2022).

Ia khawatir, jika berkepanjangan polemik kepengurusan Krama Pura ini justru akan berdampak pada terganggunya keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan ritual-ritual ibadah masih-masing umat beragama, khususnya di Desa Lingsar. Dijelaskan Sahirman, Krama Pura Lingsar yang berlokasi di desa Lingsar telah ratusan tahun menjadi salah satu tempat ritual keagamaan umat Islam dan Umat Hindu. Ada faktor historis yang cukup kuat mendasari ritual-ritual kedua umat yang berbeda keyakinan itu terlaksana baik hingga kini. Ritual pujawali (Haul) misalnya, merupakan ritual umat Muslim Lombok di dalam areal Pura Lingsar. Demikian juga seperti ritual Odalan, dan ritual-ritual ibadah lain umat Hindu di dalam wilayah Pura bersejarah seluas sekitar 16 hektare itu.

Tidak jarang mereka menjalani ritual di waktu yang sama namun tetap saling menjaga dan menghormati satu sama lain. Pura Lingsar merupakan simbol persatuan yang kokoh antar kedua Etnis yang berbeda keyakinan itu di pulau Lombok-NTB. Sejumlah ritual juga kerap dilakukan secara bersama, kendati berbeda namun tetap dalam bingkai kebersamaan dan persatuan. Ritual perang Topat misalnya, merupakan simbol persatuan umat Hindu dan Muslim di Lombok.

Pria yang juga sebagai perangkat Desa Lingsar bidang keagamaan ini juga mengatakan, pihak Desa sudah berinisiatif untuk memediasi antara Banjar Krama pura se kecamatan Lingsar dengan pihak Puri Anak Agung. Namun disayangkan pihak Banjar Krama Pura tidak hadir dengan alasan persoalan ini sudah masuk keranah hukum. Mediasi diupayakan kembali di tingkat kecamatan, namun Banjar Krama Pura tetap juga tidak mau hadir sehingga belum menemukan jalan keluar.

“kami sangat berharap Kepengurusan Pura secara resmi segera terbentuk untuk memudahkan koordinasi antar umat beragama, khususnya Hindu dan Muslim,” ungkap Sahirman.

Informasi sebelumnya, internal umat Hindu di pulau Lombok belum lama ini mengalami ujian dengan isu berbau SARA. Diduga awal polemik bermula dari konflik antara Anak Agung dengan pengurus Krama Pura. Seluruh aset Pura bersejarah di Pulau Lombok diduga Ingin diambil alih pengelolaannya oleh Anak Agung, yang mengklaim dirinya sebagai ahli waris dari Raja Karangasem Bali di Lombok. Hal ini menuai penolakan banyak pihak, terutama dari Pengurus Pura Narmada, Banjar Pengamong Pura Lingsar, tidak terkecuali Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi NTB.

Pengelolaan tempat ibadah umat Hindu tersebut yang selama ini di kelola lembaga-lembaga Hindu dan Krama Pura, kini justru hendak direbut oleh oknum Anak Agung dengan dalih penataan. Kepengurusan akan diambil alih oleh pengurus Puri.

Awal mula persoalan tersebut bermuladari persoalan di Banjar Pura Lingsar Lombok Barat, di medio tahun 2000 an silam. Kepengurusan Krama Pura yang diberi Surat Keputusan (SK) oleh Ketua Parisada sebelumnya, I Gede Renjana, dianggap tidak menjalani tugas dan tanggung jawab dengan baik, serta diduga terdapat penyimpangan dalam pengelolaan aset Pura.(GL/Abdul)


Belum ada Komentar untuk "Kepengurusan Krama Pura di Lombok Berpolemik, Tokoh Muslim Lingsar: Saudaraku Umat Hindu Bersatulah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel