Tidak Dikasi Sekolah Karena Menolak Divaksin, Wali Murid di Lombok Tengah: Sekalian Bunuh Saja Anak Saya


Ilustrasi

Lombok Tengah, GL_ Pelaksanaan program vaksin untuk mencegah penularan virus Corona pada anak usia sekolah masih terus menuai penolakan. Kali ini dari salah satu wali murid di sekolah dasar negeri (SDN) 1 Puyung, kabupaten Lombok Tengah (Loteng) NTB.

Hanya gara-gara orang tua wali murid menolak anaknya divaksin melalui tanda tangan dalam surat permintaan persetujuan yang diberikan pihak sekolah, seorang murid yang masih duduk di bangku kelas 4 SDN 1 Puyung itu tidak diijinkan masuk sekolah. Hal ini mendapat reaksi keras dari AD, warga Desa Gemel, kecamatan Puyung, sang orang tua wali murid tersebut.

Menurutnya, di dalam surat permintaan persetujuan yang disodorkan pihak sekolah itu, orang tua wali murid diberi pilihan apakah setuju atau tidak jika anaknya disuntik vaksin.

“Banyak (wali murid) yang tidak setuju,” ungkap AD, kepada gemalombok.com, Selasa (11/1/2022).

AD sangat menyesalkan tindakan pihak sekolah yang tidak mengijinkan anaknya masuk sekolah lantaran dirinya memilih untuk menolak (tidak setuju) anaknya disuntik vaksin.

“sekalian bunuh aja anak saya. Kenapa meski minta kita (wali murid) memilih setuju atau tidak (anak disuntik vaksin). Setelah kita memilih tidak setuju ternyata ada konsekuensi anak kita Ndak dikasi masuk sekolah. Ini namanya pemaksaan,” sesal AD.

Ia menjelaskan alasannya kenapa dirinya memilih menolak anaknya disuntik vaksin. Menurutnya, pihak sekolah tidak berani bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan setelah anaknya disuntik vaksin itu.

“Kalo terjadi apa-apa nanti setelah anak saya divaksin, trus siapa yang bertanggung jawab?,” pungkasnya.

Orang tua wali murid mengaku khawatir dengan program vaksin untuk anak-anak usia sekolah itu setelah mendapat banyak kabar dari sejumlah media maupun dari media sosial (medsos) terdapat kasus anak yang mendapat reaksi negatif di tubuh anak, hingga sakit bahkan sampai meninggal dunia setelah mendapat suntik vaksin.

Terpisah, aktivis 98, sekaligus pengamat dari Lembaga Pemantau Kebijakan Publik (LPKP) NTB, Gusnawan Abustan, menyesalkan sikap sekolah yang terkesan memaksakan program pemerintah untuk suntik vaksin bagi anak-anak usia sekolah tersebut. Menurutnya, tidak boleh pemerintah atau sekolah memaksa rakyatnya atau anak muridnya untuk disuntik vaksin jika mereka tidak setuju.

Dijelaskannya, sesuai himbauan Ombudsman, pihak sekolah tidak boleh memaksa peserta didik mereka untuk disuntik vaksin jika orang tua wali murid tidak setuju.

“Kalau misalkan orang tua tidak setuju (anak mereka disuntik vaksin). Trus (anak murid) disangsi tidak boleh sekolah. Mau diapakan generasi (bangsa) ini,” cetusnya.

Terkait zat haram di dalam kandungan vaksin yang digunakan pemerintah untuk program suntik vaksin tersebut, Gusnawan enggan berkomentar banyak. Menurutnya, itu sudah ranah Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait ketentuan halal haram zat yang terkandung di dalam vaksin. Kendati Ia setuju jika dalam kondisi darurat dibolehkan penggunaan kandungan zat haram sebagai obat atau untuk menjaga kesehatan, namun menurutnya, saat ini Indonesia tidak benar-benar dalam kondisi darurat. Masih ada alternatif lain agar masyarakat bisa sehat dan menjaga daya tahan tubuhnya. (GL/Red)


Belum ada Komentar untuk "Tidak Dikasi Sekolah Karena Menolak Divaksin, Wali Murid di Lombok Tengah: Sekalian Bunuh Saja Anak Saya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel