Senyum Sumringah Sepasang Pelapak di CFD Lotim Setelah Wabah Corona Berlalu

Lombok Timur, GL_ Waktu itu, hari Minggu di pagi-pagi buta. Mentari masih bersemayam di pembaringan dan belum menunjukkan kilau cahayanya di ufuk timur. Waktu jarum jam menunjukkan pukul 5.30 Wita. Di saat-saat itu di Pulau Lombok provinsi NTB yang berpenduduk mayoritas Muslim itu biasanya telah usai menunaikan ibadah sholat Subuh. Dingin angin pagi masih terasa membelai kulit.

Meski hari belum terlalu terang, puluhan pelapak terlihat mulai bertebaran mencari lokasi-lokasi strategis sebagai tempat untuk menjajakan jualan mereka agar mudah ditemukan oleh para pembeli di arena Car Free Day (CFD), di Jalan TGKH. Zainuddin Abdul Madjid, Selong, Lombok Timur (Lotim). Tidak terkecuali sepasang suami istri pelapak warga kelurahan Majidi, Bayu dan Ida. Pasangan muda pelapak ini memiliki menu andalan beraneka ragam kopi dan hidangan Siomay.

Mereka sudah memiliki lokasi pavorit untuk berjualan, yakni di depan gedung PLN Rayon Selong. Mereka meyakini di lokasi ini para pelanggan dengan mudah bisa menemukan lokasi mereka berjualan, karena dari awal Bayu dan Ida selalu berjualan di lokasi itu.

“Kita selalu upayakan supaya bisa dapat di depan PLN. Kalau sudah ada yang tempati, ya geser dikit. Asal tidak terlalu jauh,” tutur Bayu penuh semangat, kepada media ini ditemui di sela-sela merapikan lapaknya.

Berbagai jenis kopi kekinian maupun original disediakan di lapak Bayu dan Istrinya. “Koepingkoe” adalah nama yang digunakan sebagai merek jualannya, yang berarti “Kopiku” dalam bahasa lokal setempat. Tepat disampingnya, sang istri membuka lapak Siomay. Hidangan kopi panas dan siomay hangat menjadi salah satu kuliner favorit pengunjung CFD sebagai menu sarapan di pagi hari.

Semangat dan keikhlasan pasangan yang telah menikah tahun 2015 lalu ini sangat terpancar jelas dari senyum sumringah yang selalu tersungging dari bibir mereka. Hari itu adalah hari libur dimana kebanyakan orang-orang justru menikmati waktu istirahatnya, namun bagi pasangan muda suami istri pelapak ini tetap bersemangat mencari tambahan pundi-pundi rupiah.

Kegembiraan para pelapak di arena CFD Selong ini tidak terlepas juga dari telah berlalunya wabah Covid-19 dari Gumi Patuh Karya itu. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun masyarakat terkungkung di rumah tidak boleh banyak beraktifitas di luar rumah akibat wabah Corona yang telah melanda dunia beberapa waktu lalu. Namun kini, Herd Imunity (kekebalan kelompok) Covid-19 di kabupaten yang memiliki penduduk terpadat di NTB itu telah sesuai harapan. Masyarakat tidak terlalu khawatir lagi untuk beraktifitas di luar rumah.

Setelah Herd Immunity tercapai, area CFD pun kembali dibuka dan pengunjung mulai berdatangan secara berbondong-bondong. Sekedar untuk berolahraga, atau sekedar jalan-jalan menghirup udara pagi bebas polusi. Pemandangan yang cukup menakjubkan di ajang silaturrahmi sesama warga itu juga, yakni kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan sepertinya sudah mulai terbiasa, terlihat dari masih banyak yang tetap memakai masker saat beraktifitas di luar rumah.

Ajang CFD Selong Lotim merupakan gagasan era pemerintahan Sukiman-Rumaksi dan telah dilounching pada Februari 2020 lalu oleh Bupati Lombok Timur, Sukiman Azmy. Diharapan kegiatan ajang silaturrahmi warga tersebut dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pada penggunaan kendaraan bermotor. Selain mengurangi emisi Karbondioksida, CFD diharapakan menjadi salah satu upaya mendongkrak perekonomian masyarakat.

Hal ini cukup dirasakan oleh pasangan Bayu dan Ida sebagai salah satu masyarakat yang memanfaatkan momen CFD untuk mengais rezeki. Bagaimana tidak, hanya dalam waktu tiga jam saja, Bayu dan istrinya mampu mengantongi omset hingga Rp 600 ribu, sejak mulai menggelar lapak dari pukul 06.00 sampai pukul 09.00 pagi waktu setempat.

“Dalam satu kali (jualan) bisa dapat antara Rp 500 - 600 ribu,” timpal Ida.

Diakuinya juga, semenjak dibukanya kembali CFD setelah tercapainya Herd Imunity Covid-19 di Lotim, pengunjung semakin meningkat. Bahkan pada saat cuaca hujan pun antusiasme pengunjung tetap tinggi untuk datang ke area CFD.

Ida menilai, masih terdapat kelemahan yang perlu dibenahi dalam program CFD itu. Seperti belum pastinya lokasi lapak untuk para pedagang. Sehingga para pedagang harus beradu cepat untuk mendapatkan lokasi yang diinginkan. Karena lokasi yang tetap, memudahkan para pelanggan untuk menemukan lapak jajanan yang dicari.

“Ada yang sudah jadi langganan. Mereka taunya kita di sini, pasti dicari ke sini. Kalau bergeser sedikit saja, agak kesulitan mereka nyari,” kata Bayu.

Kendati baru hanya diterapkan retribusi kebersihan sebesar Rp 3 ribu untuk setiap lapak, Bayu mengaku tidak keberatan jika pemerintah menarik retribusi untuk Lapak juga asalkan pengaturan lapak ditetapkan Pemkab. Sehingga pedagang tak perlu lagi saling adu cepat untuk berebut lokasi berjualan.

Selain penataan lapak, ia juga berharap agar kegiatan CFD tidak hanya terpusat di Taman Rinjani Selong saja. Namun dibagi juga ke titik lain, seperti perempatan Polres Lotim atau Taman Tugu. Langkah ini menurutnya perlu dilakukan agar sebaran pengunjung CFD lebih merata.

“Kalau ada kegiatan di titik lain, kan pengunjung lebih semangat jalannya. Jadi lebih ramai,” kata alumnus salah satu Universitas Ternama di Jogjakarta ini. (GL/Ded)


Belum ada Komentar untuk "Senyum Sumringah Sepasang Pelapak di CFD Lotim Setelah Wabah Corona Berlalu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel