Tiga Warga Desa Gemel Positif Terpapar Covid-19 Tidak Terurus, Warga: Data Dari Desa Jangan Masuk Seperti Maling

Warga Dusun Bile Mantik Desa Gemel Voting menjaring Bakal Calon Kadus pilihan warga

Lombok Tengah, GL_
Hampir satu tahun, warga Dusun Bile Mantik, Desa Gemel, Kabupaten Lombok Tengah, NTB dipimpin oleh pejabat Kepala Dusun (Kadus) sementara (PLT) oleh pejabat Kades sendiri. Jabatan Kadus diketahui lama kosong pasca pejabat sebelumnya diberhentikan Karena tersangkut kasus. Janji kepala Desa (Kades) Gemel, M. Ramli, untuk membentuk Kadus definitif paling lambat 3 bulan, namun hingga kini belum terealisasi.

Buntut dari terlalu lama tidak ada Kadus definitif disinyalir menuai banyak permasalahan di Dusun Bile Mantik. Informasi di lapangan menyebutkan, mulai dari isu pernikahan warga yang nyaris tak terurus pemangku amanah di Dusun itu hingga terpaksa harus diserahkan penyelesaian masalah pernikahan tersebut di Desa orang, hingga masalah warga terpapar covid-19 yang tidak terurus.

“kan malu kita jadinya jadi warga disini (Desa Gemel). Warga kita nikah jika justru diselesaikan oleh Desa lain. Kesannya pemerintah kita Ndak mampu urus begituan (urus pernikahan warganya),” tutur warga Dusun Bile Mantk, Agip Sujana, kepada media ini belum lama ini.

Yang lebih memprihatinkan lagi menurut ketua tim relawan Gabungan Masyarakat Bersatu (GMB) dusun Bile Mantik itu, di wilayahnya ditemukan 3 orang warga yang positif terpapar covid-19 namun tidak pernah terurus oleh pihak pemangku amanah. Hal ini dinilai cukup memprihatinkan dan berbahaya bagi warga yang lain

“Banyak masalah di Dusun kami yang tidak bisa selesai. Kami butuh Kadus segera. Urusan pernikahan, data dan informasi dari desa tidak pernah jelas, sampai warga kami 3 orang positif covid-19 sampai sekarang tidak dapat bantuan’” ungkap Agip.

Ditambahkannya, tiga orang warga yang terindikasi positif covid 19 itu diwajibkan isolasi mandiri namun tidak pernah mendapat bantuan. “Ini contohnya, siapa yang urus, masyarakat bingung mau ngadu kemana,” cetusnya.

Menurut Agip, pihaknya pernah berkoordinasi dengan pihak Badan Perwakilan (BPD) namun dijawab tidak ada anggaran. “Seharusnya Desa punya dana taktis atau dana cadangan untuk menanggulangi kondisi darurat seperti itu,” tegas Agip.

Sementara itu salah satu anggota relawan, Sudirman berharap data-data dari Desa untuk lebih transparan masuk ke Dusun Bile Mantik. Selama ini mulai dari informasi data bantuan-bantuan hingga proyek-proyek pembangunan di Desa Gemel terkesan selalu ditutup-tutupi hingga membuat warga bertanya-tanya.

“Seharusnya data-data dari Desa transparan tembus ke masyarakat khususnya warga Dusun Bile Mantik, jangan seperti maling, sembunyi-sembunyi. Bantuan-bantuan juga harus transparan supaya bisa tepat sasaran,” tegasnya pria yang juga anggota Badan Keamanan Desa (BKD) ini.

Selain itu menurut Sudirman, selama dirinya menjadi anggota BKD tidak pernah mendapat insentif selama Kades yang menjabat saat ini (M. Ramli). Ia berharap demi mendukung pembangunan masyarakat Desa Gemel seharusnya juga pihak pemangku amanah memperhatikan masalah kesejahteraan anggota BKD.

“Padahal dulu kita dilantik Bupati, tapi Ndak pernah ada insentif. Desa lain bisa dianggarkan kalau Gemel kok ndak ada. Ada apa di Desa Gemel ini?,” pungkas pria yang sering merantau bekerja di luar negeri itu.

Ditambahkan Sudirman, jangankan insentif, masalah seragam Anggota BKD saja tidak beres dan terkesan asal-asalan. Dirinya kerap menjadi buah tertawaan warga saat bertugas mengamankan kegiatan di Desa Gemel karena seragamnya yang dinilai aneh, tanpa sepatu, Pakaian dengan warna tidak seragam, tidak ada peralatan keamanan dan lain-lain, hingga terpaksa sering menggunakan tali plastik rafia menjadi sabuk ikat pinggang.

Para Relawan berharap, dengan terobosan-terobosan yang dilakukan tim relawan tersebut pihak Desa bisa segera merespon positif agar Pansel pembentukan Kadus Bile Mantik segera bekerja mengingat kebutuhan Kadus di salah satu dusun dari 8 Dusun di Desa Gemel tersebut sangat mendesak. Selain itu, Kades diharap lebih peduli kepada masyarakat, khususnya warga Dusun Bile Mantik, apabila ada persoalan bisa diselesaikan dengan duduk bersama serta saling menghargai. Tidak dibiarkan masalah berlarut dan bertele-tele tanpa kejelasan. Terlebih kekhawatiran masyarakat akan isu yang beredar terkait Pansel pembentukan Kadus justru akan digelar tahun depan yang membuat warga sangat resah. (GL/red)


Belum ada Komentar untuk "Tiga Warga Desa Gemel Positif Terpapar Covid-19 Tidak Terurus, Warga: Data Dari Desa Jangan Masuk Seperti Maling"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel