Keren, Mahasiswa KKN Unram Bersama Warga di Loteng Mampu Sulap Sampah Jadi Uang

Mahasiswa KKN Tematik Unram tahun 2021 sedang observasi mengumpulkan sampel sampah

Lombok Tengah, GL_
Dewasa ini, persoalan sampah masih menjadi permasalahan krusial dalam kehidupan masyarakat hampir di seluruh daerah di Nusantara, tidak terkecuali di pulau Lombok, NTB. Jumlah timbunan sampah kian hari kian meningkat seiring meningkatnya konsumsi dan produktifitas masyarakat. Untuk mengatasi persoalan sampah ini tentu memerlukan dukungan berbagai pihak, baik dari jajaran pemerintah, perusahaan swasta maupun milik pemerintah, komunitas, serta yang tidak kalah pentingnya yakni dukungan dari masyarakat itu sendiri.

Melihat fenomena yang semakin menjadi momok menghawatirkan bagi masyarakat itu, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Mataram (Unram) tahun 2021 justru menanggulangi persoalan tersebut menjadi sumber peluang, bahkan menjadi sumber uang. Bersama BUMDES, serta masyarakat Desa Sengkol kabupaten Lombok Tengah (Loteng), mahasiswa KKN dari berbagai jurusan itu menyelenggarakan studi sampah bersama komunitas BSF (Black Soldier Fly) Sengkol.

Studi sampah ini dilaksanakan pada bulan Juli 2021 lalu selama dua pekan di tiga Dusun, yaitu Dusun Sengkol I, Dusun Sengkol II, dan Dusun Sengkol IV. Sampel yang diambil berjumlah 30 sample dengan masing-masing 10 sampel untuk setiap Dusunnya. Sampel sampah tersebut diambil dari rumah-rumah warga dan rumah makan. Dalam studi sampah ini, jenis sampah yang diambil adalah jenis sampah organik dan anorganik.

Sebelum studi sampah ini dilakukan, pihak BSF Sengkol, Kepala Dusun (Kadus), serta mahasiswa KKN Tematik Unram 2021 melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat yang dipilih untuk berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Hal itu dilakukan untuk proses observasi terlebih dahulu guna mengetahui jumlah/volume sampah yang dihasilkan di Desa Sengkol sebagai landasan untuk penyelenggaraan yang berkesinambungan kedepannya. Selain itu, juga untuk mengajak sekaligus mengedukasi masyarakat untuk bisa memilah sampah jenis organik dan anorganik.

Teknik yang dilakukan yakni dengan cara pengangkutan sampah dari rumah-rumah warga dan rumah makan kemudian dikumpulkan dan dilakukan pemilahan sampah menuju fasilitas BSF di Dusun Kekale. Setelah dipilah, sampah organik kemudian diolah menjadi pakan Maggot (Larva Black Soldier Fly).

Maggot ini merupakan larva dari serangga Black Soldier Fly (BSF) atau dalam Bahasa latin Hermetia Illicens, merupakan spesies jenis lalat dari Ordo Diptera, family Stratiomyidae dengan Genu Hermetia. BSF merupakan lalat asli dari benua Amerika (Hem, 2008) tetapi juga ditemukan di Indonesia.

Maggot ini kemudian bisa dihasilkan dengan cara dibudidaya. Setiap kali panen Maggot, masyarakat pembudidaya pakan untuk berbagai jenis hewan ternak ini bisa menjualnya dengan harga Rp 12.000 - 17.000/kg. Bahkan jika dijual dalam bentuk kering dan sudah memasuki pasal Market Place (E-commerce) harga pakan Maggot bisa menembus harga Rp 75.000 – 110.000/kg. Melihat peluang tersebut, budidaya Maggot ini disinyalir akan bernilai ekonomis dan diprediksi bisa menjadi jenis usaha baru yang menghasilkan serta memiliki peluang bisnis yang baik kedepannya bagi masyarakat.

“Karena selain dapat menanggulangi permasalahan sampah, pengolahan sampah organik yang tepat, dapat menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan,” ucap Raja Akbar, ketua kelompok KKN Tematik Unram tahun 2021.

Raja berharap, kegiatan observasi studi sampah ini bisa dilaksanakan terus menerus sehingga ada keberlanjutan dari program tersebut. “Terutama dengan adanya jasa pengangkutan sampah yang dilakukan oleh BSF Sengkol maupun pihak-pihak lain di kemudian hari,” lanjutnya.

Menurut Raja, kendati saat ini fasilitas BSF Sengkol baru mampu mengolah sampah organik menjadi kompos atau bahan pakan Maggot, Ia juga berharap kedepannya mampu mengolah segala jenis sampah, terutama sampah anorganik menjadi barang yang lebih berguna.

Terkait program tersebut, warga desa Sengkol menyambut antusias kegiatan mahasiswa KKN Unram bersama BSF Sengkol itu, karena dinilai cukup bermanfaat terutama dalam hal pengangkutan sampah yang selama ini kerap menjadi masalah. Warga juga berharap kegiatan yang cukup membantu masyarakat tersebut terus berjalan di kemudian hari.

“Kami biasanya membakar atau membuang sampah di tempat yang lumayan jauh dari rumah kami karena letak tempat pembuangan sampah yang lumayan jauh dan ketersediaan tempat sampah yang masih kurang di Desa Sengkol,” ujar salah satu warga dalam kegiatan sosialisasi.

Terpisah, Manager Site BSF Sengkol, Lalu Muhreza Irfani, mengatakan, untuk sementara ini pihaknya baru mampu memproduksi pakan Maggot sebanyak 20-40 kg perhari dari sampah organik. Saat ini lanjutnya, kendala yang dihadapi masih persoalan distribusi/ marketing. Pasalnya, distribusi pakan Maggot ini baru hanya di sejumlah kabupaten/kota di seputar pulau Lombok saja dan belum mampu menembus pasar luar daerah.

Menurut pria yang akrab dipanggil Mamiq Irfani ini, kontribusi mahasiswa KKN Tematik Unram tahun 2021 cukup membantu pihaknya dan masyarakat desa pada program budidaya pakan Maggot, terutama dalam hal sosialisasi, selain ikut terjun langsung dalam pengumpulan sampah. Kendati dinilai masih perlu pembelajaran lebih lanjut terkait budidaya pakan Maggot ini, Ia tidak menampik keterlibatan mahasiswa KKN tematik Unram dinilai cukup membantu.

“Kita ikut bangga mahasiswa KKN mau turun mengumpulkan sampah. Kita tau itu kan kotor, tapi mereka tetap mau,” pungkasnya. (GL/red)


Belum ada Komentar untuk "Keren, Mahasiswa KKN Unram Bersama Warga di Loteng Mampu Sulap Sampah Jadi Uang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel