Pernah Terlibat Menyusun Permenpar, Habibi Tanggapi Penyusunan RIPPDA Lotim

Putrawan Habibi
Lombok Timur, GL_ Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Lombok Timur (Lotim) oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim mulai menuai sorotan dari berbagai kalangan, salah satunya dari Putrawan Habibi. Tokoh pemuda Lotim yang juga pernah berkompetisi pada Pilkada Lotim tahun 2018 lalu ini turut angkat bicara.

Tokoh Muda yang kini menjadi Tim Ahli di Monitoring Center for Sustainable Tourism Observatory (MCSTO) Universitas Mataram (Unram) dan pernah ikut dalam penyusunan master plan Pariwisata Lombok Barat (Lobar) ini mengatakan, penyusunan RIPPDA tersebut sudah seharusnya dilakukan untuk kemajuan pariwisata Lotim.

Selain pernah membantu membuat Master plan Lobar, Putrawan Habibi yang merupakan Cucu Pengasuh Ponpes DAYAMA (Darul Yatama wal Masakin) Jerowaru Lotim, (Alm.) Tuan Guru H. Mutawalli ini, juga pernah terlibat dalam kajian wisata daerah Kabupaten Toli Toli dan Tojo Una Una. Ia juga pernah terlibat dalam penyusunan Peraturan Menteri pariwisata nomor 14 tahun 2016 tentang Pariwisata Berkelanjutan.

"Sudah sepatutnya mikirin itu (RIPPDA). Pariwisata kita perlu roadmap yang jelas. Riparda biasanya untuk 25 tahun. Nanti penjabarannya berupa master plan untuk 5 tahun," ucap Habibi kepada Gemalombok.com, Jumat (01/11/2019).

Tokoh muda yang pernah menjadi kompetitor Sukma (Sukiman-Rumaksi), pada Pilkada Lotim 2018 lalu, dengan paket Pasangan Alhabib ini juga menyarankan, RIPPDA Lotim bukan menyasar Mass Tourism (Wisata Umum), melainkan lebih pada pengembangan Desa Wisata.

"RIPPDA-nya jangan mass tourism, kalah kita sama Loteng, Lobar, atau KLU. Kita buat yang desa wisata," imbuhnya.

Dengan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas (Community Based), Ia meyakini Lotim akan dapat bersaing dengan daerah lain dalam sektor pariwisata. Lebih lanjut dikatakannya, penataan zona wisata perlu dilakukan agar tidak merusak keindahan alamiah yang dimiliki Daerah Patuh Karya itu.

Ia mencontohkan daerah Yogyakarta, yang membangun hotel besar hanya di tengah kota dan tidak di pinggiran kota. Tentunya dengan menetapkan sasaran klasifikasi wisatawan. Mulai dari wisatawan high class (eksklusif), hingga low class (backpackers).

"Jangan rusak alam yang sudah bagus dengan bangun hotel besar. Kita atur pasarnya. Biar bagaimanapun kita butuh investor besar untuk hotel bintang. Karena ke depan industry MICE Tourism akan semakin besar," paparnya.

Dengan adanya RIPPDA tersebut, menurut Habibi, pariwisata Lotim akan lebih berkembang, dan tidak terpatri lagi hanya pada pariwisata yang bersifat accidentil dan ceremonial seperti yang selama ini terjadi.

"Misalnya bau nyale, homestay, festival budaya. Tidak ada yang terencana oleh pemerintah. Semuanya sudah ada, dan partisipatif masyarakat saja sifatnya," pungkas dia.

Hal ini menurutnya, menyebabkan pendapatan sektor pariwisata tidak dapat terekam baik dan tidak memberi pengaruh signifikan bagi kesejahteraan masyarakat serta PAD Lotim. Perbedaan signifikan antara daerah yang telah memiliki RIPPDA dengan yang belum dapat dilihat dari PAD di sektor pariwisatanya.

"Lobar sudah lengkap. Lihat PAD-nya dari pariwisata, Rp 98 Miliyar," tutup Habibi (GL/Ded)

1 Komentar untuk "Pernah Terlibat Menyusun Permenpar, Habibi Tanggapi Penyusunan RIPPDA Lotim"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel