Kasus Kekerasan Seksual Anak di Lotim Meningkat, Pemda Diminta Sinergikan Program Unggulan dengan Pencegahan

Ilustrasi
Lombok Timur, GL_ Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), jumlah kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di kabupaten Lombok Timur (Lotim) NTB disinyalir mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, di tahun 2019 ini saja telah terjadi 2 kasus Tindak Kekerasan Seksual yang dilakukan oleh Ayah Kandung korban.

Hal itu diungkapkan Bagian Pendampingan Hukum P2TP2A Lotim, Triyati, kepada gemalombok.com, Rabu (11/9/2019). Triyati berharap agar Pemda Lotim memberikan perhatian khusus pada Tindak Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak. Menurutnya, perlu dilakukan sosialisasi secara masif hingga ke lapisan masyarakat terbawah, mengingat kasus Kekerasan Seksual dominan terjadi di lapisan masyarakat tingkat bawah.

Ia juga berharap agar Pemda setempat mensinergikan program lain yang tengah digalakkan dengan sosialisasi Tindak Kekerasan Seksual Terhadap Anak. Seperti, program pencegahan pernikahan dini yang tengah gencar dijalankan yang telah menyasar masyarakat lapisan terbawah.

"Kenapa tidak kami digandeng saja. Untuk sosialisasi terkait tindak kekerasan seksual ini. Karena perlu sinergitas multi pihak untuk pencegahan Tindak Kekerasan Seksual ini," tandasnya.

Seperti informasi yang telah viral baru-baru ini, tindakan biadab seorang ayah tega menggagahi anak tirinya hingga hamil tiga bulan. Hal itu menuai kecaman keras dari banyak pihak, termasuk dari P2TP2A yang kini juga ikut memberikan pendampingan bagi korban dan keluarganya. Pendampingan intensif menurut lembaga ini, mutlak dilakukan untuk pemulihan trauma mendalam korban.

"Proses hukum kita dampingi. Juga kita akan melakukan rehab sosial dan perlindungan khusus untuk korban," ujar Triyati.

Menurut wanita yang akrab disapa Tri ini, perkembangan dunia digital menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya tindakan kekerasan seksual. Ditambah, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Lotim yang belum siap menangkal dampak negatif internet, sehingga keberadaan internet kerap disalah gunakan.

"Bisa jadi karena akses media sosial, kemudian mudah sekali diakses konten-konten porno. Sehingga, menimbulkan kasus kekerasan seksual di lingkungan kita. Termasuk juga, rendahnya tingkat pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan keluarga," sesalnya.

Karena itu, Tri meminta masyarakat agar tidak antipati pada pendidikan seksual. Karena melalui pendidikan seksual, anak akan diajarkan untuk menghargai dan menjaga bagian tubuhnya agar terlindung dari tindak kekerasan seksual. Tentunya, dengan materi yang berbeda pada tiap tingkatan usia termasuk usia sekolah.

"Pendidikan seks sejak dini itu memang dianggap tabu. Kalau yang belum tahu. Tapi, itu sebenarnya sangat penting agar anak mengetahui cara menangkal tindak kekerasan seksual. Termasuk juga kaitannya dengan edukasi seks sejak dini," imbuh Tri. (GL/Ded)

Belum ada Komentar untuk "Kasus Kekerasan Seksual Anak di Lotim Meningkat, Pemda Diminta Sinergikan Program Unggulan dengan Pencegahan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel