Dianggap Ganggu Kenyamanan Wisatawan, Proyek Drainase Senggigi Dikeluhkan Pelaku Wisata

Lombok Barat, GL_ Belum tuntasnya pengerjaan proyek drainase dikeluhkan pelaku pariwisata Senggigi. Pasalnya, pekerjaan proyek ini justru terkesan sengaja dikerjakan saat musim pariwisata sedang ramai (high season) hingga Akhir Agustus 2019 ini. Hal ini dianggap mengganggu kenyamanan wisatawan dan menghilangkan pendapatan para pelaku wisata di sana. Terlebih saat pengerjaan proyek tersebut terkesan ditelantarkan saat musim tamu lagi ramai seperti saat ini.

Pantauan gemalombok.com, minggu-senin (25-26/8/2019) siang dan malam hari. Tumpukan material di sisi jalan masuk ke arah pantai senggigi masih terlihat. Lubang di pinggir jalan masih nampak menganga. Dikhawatirkan mengancam keselamatan wisatawan pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara motor dan mobil.

Pemandangan ini dinilai ironis karena justru dikerjakan saat para pelaku wisata berharap income lebih saat musim tamu ramai seperti saat ini. Para wisatawan terlihat sepi melintas di lokasi tersebut.

“Saat orang berharap “panen” justru pemerintah terkesan membendung dan menghalangi dengan pekerjaan proyek drainase ini. Kenapa ndak dikerjakan saat musim sepi,” cetus Prasetya, salah satu pelaku wisata di Senggigi.

Suasana senggigi yang selama ini nyaman dan asri kini terlihat berdebu pada siang hari dan pemandangan gelap gulita pada malam hari pasca kabel listrik bawah tanah lampu penerang jalan terputus akibat pekerjaan drainase.

Prasetya mengatakan, alat berat yang digunakan untuk mengeruk sisi badan jalan sudah ditarik sejak 4-5 hari terakhir. Tapi tumpukan tanah masih terlihat di sepanjang jalan sementara lubang drainase belum ditimbun. Ditambah lagi ancaman banjir menghantui Senggigi mengingat musim hujan akan segera tiba bulan September mendatang.

“Kondisi ini tentu berbahaya bagi pengguna jalan maupun wisatawan yang melintas,” tandasnya. Belum lagi persoalan lampu penerangan jalan yang sudah tidak menyala lagi.

“Kalo ada tamu jalan malam-malam trus nyemplung karena gelap, siapa yang tanggung jawab mas. Waktu makin mepet, musim hujan segera tiba. Bukankah seharusnya malah ngelembur,” sesalnya.

Ia sangat menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan kurang peduli dengan objek wisata Senggigi. Terlebih pekerjaan proyek drainase justru mulai dikerjakan sejak awal Agustus lalu di saat lagi rame-ramenya wisatawan berkunjung.

Prasetya juga menilai, sepertinya perencanaan proyek Senggigi tidak ada koordinasi antara PLN, PU, dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya.

“Kadang-kadang saya merasa Senggigi ini disodorkan masalah terus menerus. Pertanyaan besarnya, apakah dinas PU tidak tau kalau sekarang ini musim ramai?,” kesal pria berambut gondrong ini.

Penderitaan para pelaku wisata Senggigi sepertinya belum selesai sampai di sini. Jika malam tiba kegelapan menghantui para wisatawan dan pelaku wisata. Penerangan jika malam tiba hanya berharap dari lampu-lampu ruko dan lapak pinggir jalan. Intinya, tidak ada lampu penerang jalan yang menuju ke pantai Senggigi. Sementara hotel-hotel yang ada disekitar tidak ada yang menyumbang lampu penerang jalan.

“Kalo sudah tutup semua di atas jam 10 malem gelap gulita mas. Kayak kuburan,” tandasnya. Ia memastikan tamu tidak ada yang berani kepantai jika malam hari.

Menurut Prasetya, pelaku wisata dan wisatawan baru saja dua bulan menikmati lampu penerangan setelah sebelumnya lama diusulkan. Kini kondisi jalan masuk ke pantai Senggigi kembali gelap gara-gara proyek drainase. Padahal saat ini para pelaku sangat berharap mendapat penghasilan besar di musim ramai sejak musibah gempa yang melanda Lombok beberapa waktu lalu.

“Cuma tiga bulan ramai setiap tahun, tapi sekarang di bom bardir begini oleh pemerintah. Gimana kita mau cari makan,” cetusnya.

Senada dengan Prasetya, salah satu pelaku wisata Senggigi yang lain, Budi, menyayangkan kondisi ini. Menurutnya, dengan banyaknya tumpukan material justru akan mengganggu pengguna jalan. Terlebih para wisatawan. Keindahan objek wisata Senggigi menjadi berkurang dengan banyaknya tumpukan material di jalan-jalan.

Kepala Dinas PUPR Lombok Barat, Ir I Made Arthadana, MM.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lombok Barat, Ir I Made Arthadana, MM., ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya mengapresiasi informasi yang diperoleh dari lapangan sebagai kontrol perbaikan kinerja. Dikatakannya, proyek tersebut merupakan bagian dari penataan kawasan wisata Senggigi.

Terkait proyek yang dinilai mengganggu kenyamanan wisatawan, Arthadana berjanji akan segera menindaklanjuti dengan memerintahkan PPK dan rekanan agar segera menuntaskan pekerjaan proyek senilai sekitar Rp 900 juta tersebut.

“Terimakasih informasi dari lapangan itu kan sangat-sangat kita butuhkan,” tandasnya. Meski nilai proyek dibeberkan, namun Arthadana mengaku tidak ingat siapa rekanan kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut. Selain itu papan nama proyek juga tidak terlihat di sekitar lokasi proyek.

Namun Ia membantah jika dalam pengerjaan proyek dikatakan tidak berkoordinasi dengan pihak Operasi Perangkat Daerah (OPD) seperti BWS, Balai Jalan, PLN, serta instansi terkait lainnya.

Arthadana juga tidak menampik jika pelaksanaan pekerjaan drainase tersebut pihaknya masih kurang cermat. Namun demikian dia berjanj akan segera membenahi hal itu demi perbaikan salah satu objek wisata andalan Lombok Barat tersebut.

“Nanti saya cek segera kelapangan itu. Terimakasih informasi ini,” pungkasnya.(GL/red)

Belum ada Komentar untuk "Dianggap Ganggu Kenyamanan Wisatawan, Proyek Drainase Senggigi Dikeluhkan Pelaku Wisata"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel